Ujoh Bilang- Anies Baswedan, melontarkan kritik keras terhadap rencana Kementerian Kebudayaan yang berencana menulis ulang sejarah Indonesia. Dalam pernyataannya di media sosial X (sebelumnya Twitter), Anies menegaskan pentingnya menjaga keutuhan dan kejujuran narasi sejarah bangsa.
Menurutnya, sejarah Indonesia tidak boleh hanya menampilkan kisah keberhasilan, tetapi juga harus mencerminkan kenyataan yang utuh, termasuk peristiwa kelam yang pernah terjadi.
“Kita adalah bangsa yang besar, dan bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, termasuk sisi-sisi kelam yang pernah terjadi?” tulis Anies.
Sejarah Bukan Hanya Kisah Kemenangan, Tapi Juga Pelajaran
Anies mengingatkan bahwa sejarah memiliki fungsi sebagai cermin bangsa. Jika penulisan sejarah hanya menonjolkan prestasi dan kemenangan, maka maknanya akan cacat dan kehilangan esensinya.
“Sejarah akan menjadi cacat dan kehilangan makna bila hanya berisi deretan kisah kemenangan, tanpa menunjukkan luka dan pelajaran yang harus diingat bersama,” tegasnya.
Ia mencontohkan bahwa sejarah Indonesia terdiri dari berbagai dinamika, mulai dari capaian pembangunan di era Orde Baru hingga tragedi pemerkosaan massal Mei 1998. Semua peristiwa itu, menurutnya, harus diakui sebagai bagian dari perjalanan bangsa.
“Baik capaian pembangunan di era Orde Baru maupun tragedi Mei 1998, semuanya harus diakui. Itulah fondasi penting untuk membangun keadilan dan persatuan sejati,” ujarnya.

Baca Juga : Puskesmas Keliling Ujoh Bilang Mahulu Tetap Jalan Meski Hanya Punya Dua Tenaga Dokter
Menghapus Sejarah Kelam , Melemahkan Persatuan Nasional
Anies memperingatkan bahwa menghapus atau menyangkal sebagian sejarah hanya akan menjauhkan masyarakat dari nilai keadilan sosial. Ia menekankan bahwa rekonsiliasi dan pengakuan terhadap kebenaran sejarah adalah kunci persatuan bangsa.
“Menghapus atau memanipulasi sejarah hanya akan menciptakan generasi yang buta akan masa lalu. Padahal, justru dengan mengakui kesalahan dan belajar dari kegelapan, kita bisa membangun masa depan yang lebih baik,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa upaya menulis ulang sejarah dengan menghilangkan fakta-fakta kelam bisa menjadi bumerang bagi persatuan nasional.
“Jika kita hanya mau mengingat yang indah-indah saja, lalu bagaimana dengan korban-korban ketidakadilan di masa lalu? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kesalahan yang sama tidak terulang?”
Pesan untuk Menteri Kebudayaan Jaga Integritas Sejarah
Di akhir pernyataannya, Anies menyampaikan harapannya kepada Menteri Kebudayaan agar tetap menjaga integritas sejarah bangsa dengan menyampaikan kebenaran secara utuh.
“Setiap capaian harus menjadi kebanggaan, dan setiap luka harus menjadi pelajaran. Kami harap Pak Menteri Kebudayaan menjaga integritas sejarah bangsa dengan menyampaikan seluruh kebenaran secara utuh dan jujur. Terima kasih,” pungkas Anies.
Pernyataan Anies ini memicu berbagai reaksi dari publik. Sebagian mendukung pandangannya, sementara yang lain berargumen bahwa penulisan ulang sejarah mungkin diperlukan untuk koreksi fakta yang selama ini bias.















